Senin, 09 Januari 2012

White Horse...

Berlokasi 12 km di sebelah timur Kota Luoyang, Propinsi Henan, Cina, The White Horse (The Baima Temple) adalah kuil Budha tertua di Cina. Walaupun bukan kuil terluas ataupun terindah di Cina, White Horse merupakan kuil yang sangat penting bagi sejarah penyebaran Budha di Cina. 

Sejarah kuil ini dimulai pada masa pemerintahan Kaisar Mingdi dari Dinasti Han (25-220 M). Pada Tahun 68 M Kaisar Mingdi mengutus Cai Yin, Qin Jing, beserta beberapa pengikut untuk pergi ke Tianzhu (sekarang India) untuk mempelajari Budha. Ketika When Cai, Qin, dan rombongannya tiba di daerah yang sekarang disebut Afghanistan, mereka bertemu dengan Kasyapamatanga dan Dharmaranya, dua pendeta dari India yang mengajarkan Ajaran Budha di sana. Pada tahun itu juga mereka kembali ke Luoyang membawa kitab Budha yang tertulis dalam Bahasa Sansekerta dan potret Sakyamuni (Budha) yang diangkut dengan kuda putih beserta kedua pendeta India tersebut. Kaisar menginapkan pendeta India itu di the Honglu Temple, untuk selanjutnya kuil tersebut dibangun untuk kedua pendeta itu dan diberi nama Baima (White Horse) Temple untuk mengingat dan menghormati kuda putih pembawa Kitab Budha dan potret Sakyamuni.

Kuil Baima (White Horse Temple) yang ada sekarang sudah mengalami beberapa kali perubahan, yang terbesar adalah pada saat Dinasti Ming (1368-1644), area kuil menjadi 40,000 meter persegi dengan pintu masuk yang beratap dengan dilengkapi 3 pintu. Di sepanjang tengah-tengah area adalah halaman berturut-turut The Hall of the Heavenly King, Mahavira Hall, Receiving and Directing to Paradise Hall, Vairocana Pavilion, dan Hall of the Giant Buddha.

Di sisi timur halaman dan paviliun adalah Guest Hall, Hall of Prayer, Hall of Abstinence, dan tempat tinggal para pendeta. Di sisi barat adalah Hall of the Founder of Buddhism, Hall of Meditation, dan Preaching Hall. Kompleks ini secara keseluruhan sangat anggun dan proporsional dengan menunjukkan keagungan arsitektur Cina yang membedakan antara struktur yang penting dengan yang kurang penting.


White Horse Temple


White Horse

Di kuil inilah dibuat Chinese Sutra of Forty-two Sections versi pertama. Kuil ini menjadi kuil yang sangat penting bagi perkembangan Budha di Cina yang menyebar ke Korea, Jepang dan Vietnam. Ajaran Budha di Cina juga berpengaruh penting terhadap pengetahuan, etika dan moral Bangsa Cina.

Pada tahun 1992 dibangun Hall of the Thai Buddha di sebelah barat kuil yang lama atas prakarsa dan partisipasi penganut Budha dari Thailand dan Cina sendiri. Pada tahun 2008 kuil dikembangkan dengan bangunan stupa dengan style India dengan kerjasama antara pe,erintah Cina dan India.


Offering Incense


Persiapan doa


Penganut Budha berdoa


Hall of Heavenly Kings

Inside Hall of Heavenly Kings

With Buddhis Monk 

Selasa, 20 Desember 2011

Kampung Naga

Beragam bayangan akan muncul ketika mendengar Kampung Naga, kampungnya para naga, kampung penghasil buah naga atau lainnya yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau naga. Demikian juga kami pada awalnya, sebelum menginjakkan kaki di sana, bemacam bayangan sudah terbentuk. Perjalanan ke Kampung Naga kami awali dari Pangandaran, sebagai rangkaian menelusuri Jawa Bagian Selatan. Hari ketiga sejak berangkat dari Gresik kami berangkat dari Pangandaran lewat jalur Banjarsari, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya.

Kampung Naga hanyalah sebuah kampung kecil, yang karena para penduduknya patuh dan menjaga tradisi yang ada, membuat kampung ini unik dan berbeda dengan yang lain. Tak salah jika kampung ini menjadi salah satu warisan budaya Bangsa Indonesia yang patut dilestarikan.

Kampung Naga secara administratif terletak di kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lokasi Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya - Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer. Kampung Naga berada tepat di sebuah lembah yang subur yang dilalui oleh sebuah sungai bernama sungai Ciwulan yang bermata air di Gunung Cikuray Garut.

Kampung Naga adalah salah satu kampung adat dari sekian kampung-kampung adat yang ada di Jawa barat dan masih tetap melestarikan kebudayaan dan adat leluhurnya. Yang membuat Kampung Naga ini unik adalah karena penduduk kampung ini seperti tidak terpengaruh dengan modernitas dan masih tetap memegang teguh adat istiadat yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Uniknya lagi, karena areal Kampung Naga yang terbatas hingga tak memungkinkannya lagi mendirikan rumah di kampung itu, banyak penduduk Kampung Naga pada akhirnya menyebar ke berbagai penjuru daerah seperti ke Ciamis dan bahkan Cirebon tapi penduduk yang tak lagi berdiam di Kampung Naga ini tetap saja masih menjunjung tinggi warisan adat budaya leluhurnya.

Kampung Naga dari ketinggian


Jalan setapak menuju Kampung Naga

Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Kampung Naga  dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya.  Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memelihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara Bulan Maulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang).

Kepatuhan warga Kampung Naga sendiri dengan tetap mempertahankan upacara-upacara adat, termasuk juga pola hidup mereka yang tetap selaras dengan adat leluhurnya seperti dalam hal religi dan upacara, mata pencaharian, pengetahuan, kesenian, bahasa dan sampai kepada peralatan hidup (alat-alat rumah tangga, pertanian dan transfortasi) dan sebagainya dengan dasar karena mereka begitu menghormati budaya dan tata cara leluhurnya. Mereka tetap kukuh dalam memegang teguh falsafah hidup yang diwariskan nenek moyangnya dari generasi ke generasi berikutnya. Kebiasaan yang dianggap bukan berasal dari nenek moyangnya dianggap tabu untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dianggap sebagai pelanggaran adat yang dapat membahayakan bukan saja bagi si pelanggar, tetapi juga bagi seluruh isi Kampung Naga dan bagi orang-orang sa-Naga.

Jumlah keseluruhan penduduk  sekitar 325 orang, sebagian besar bertani dan berternak ikan. Tanaman pertanian yang ditanam biasanya adalah padi, jagung, sayur-sayuran dan apotik hidup. Tanah di kampung ini tergolong sangat subur, karena tekstur tanah yang miring, kemudian dibatasi oleh sungai, dan diapit oleh bukit - bukit yang lumayan terjal. Karena terletak di wilayah pegunungan, kondisi cuaca juga sangat membantu para petani di kampung ini, semua tanaman yang ditanam dapat tumbuh subur. Di belakang rumah penduduk,  terdapat kolam-kolam ikan, berisi ikan lele, ikan mas dan ikan gurame, yang setiap waktu siap dipanen dan memberikan penghasilan lumayan buat para penduduk.

 

Masuk Kampung Naga


Area depan Kampung Naga

Disamping gaya hidup dan pola kebersamaan mereka yang tak kalah unik dari Kampung Naga adalah struktur bangunan tempat tinggal mereka. Keunikan tersebut tercermin dari bentuk bangunan yang berbeda dari bangunan pada umumnya termasuk letak, arah rumah hingga bahan-bahan yang membentuk rumah itu semuanya selaras dengan alam dan begitu khas. Dengan ketinggian kontur tanah yang berbeda-beda di tiap tempat, maka rumah-rumah di Kampung Naga di buat berundak-undak mengikuti kontur tanah. Deretan rumah yang satu lebih tinggi dari rumah yang lain dengan pembatas sangked-sangked batu yang disusun sedemikian rupa hingga membuat tanah yang di atas meski ada bangunannya tidak mudah longsor ke bawah dan menimpa rumah yang ada di bawahnya. Sekeliling kampung pun dipagari dengan tanaman (pohon bambu) hingga membentuk pagar hidup yang begitu asri.

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau ijuk sebagi penutup bumbungan. Rumah-rumah panggung berderet rapi memanjang dari barat ke timur. Setiap rumah menghadap ke utara atau selatan. Setiap rumah terbuat dari kayu, dengan dinding dari anyaman bambu, beratap ijuk atau daun nipah, dan dikapur dengan warna putih. Perabotan rumah tangga seperti kursi dan meja tidak diperkenankan, apalagi peralatan elektronik seperti televisi, radio dan sebagainya. Bahkan mereka menolak pemasangan listrik di kampung mereka. Tetapi sudah terlihat ada beberpa rumah yang dilengkapi dengan televisi yang memakai sumber daya aki.

Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik), pintu bangunan terbuat dari serat rotan  Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Kampung Naga.
Rumah di Kampung Naga jumlahnya selalu dipertahankan, yaitu tidak boleh kurang dan lebih dari 118 bangunan. dari 118 bangunan tersebut, sebanyak 108 bangunan adalah rumah penduduk, sisanya adalah bangunan masjid, ruang pertemuan dan rumah agung ( rumah besar ) yang tidak boleh ditempati oleh siapapun. Bahkan ketika terjadi pernikahan antara muda-mudi dari kampung ini bisa jadi pasangan tersebut harus keluar dari Kampung Naga juga karena tidak tersedia tempat tinggal (rumah).

Dilihat dari bentuk perkampungannya, penduduk Kampung Naga sangat erat kekerabatannya. Hal itu tercermin dari pola rumah yang saling berkelompok dan saling berhadap-hadapan dengan tanah lapang ditengah-tengah sebagai areal bermain anak-anak. Seluruh rumah dan bangunan-bangunan yang ada atapnya memanjang arah barat ke timur, pintu memasuki kampung terletak di sebelah timur, menghadap ke sungai Ciwulan hingga jika dilihat dari ketinggian akan terlihat begitu indah dan mengingatkan kita pada atap-atap rumah di Tiongkok jaman dulu. Di bagian sebelah barat lapang terdapat bangunan masjid dan pancuran, sejajar dengan masjid terdapat bangunan yang dianggap suci yang dinamakan Bumi Ageung, sebuah bangunan rumah tempat menyimpan barang-barang pusaka serta rumah kuncen (Kepala Adat). Selain itu, terdapat bangunan tempat menyimpan hasil pertanian berupa padi yang disebut leuit.



Rumah di Kampung Naga


Kekerabatan yang erat


Perlengkapan khas penduduk Kampung Naga


Atap rumah yang menyatu


Di teras rumah yang khas dan asri

Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Awalnya penduduk di sana memeluk agama Hindu yang berasal dari Kerajaan Pajajaran, namun akhirnya memeluk agama Islam yang dibawa oleh Singaparana. Sembah Dalem Singaparana inilah yang kemudian menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.

Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.

Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.


Rumah yang khas



Pulang dari mencari kayu bakar


Penyimpanan kayu bakar di atas tungku dapur


Cendera mata Kampung Naga


Rumah untuk pertemuan


Masjid dengan beduk dan kentongan


Ada beberapa hal yang patut menjadi catatan jika ingin tetap mempertahankan kondisi Kampung Naga seperti apa adanya dari dulu. Masuknya televisi, walaupun belum banyak, lambat laun akan mempunyai pengaruh terhadap kearifan lokal mereka, terutama untuk generasi mudanya. Jika nantinya diperbolehkan tentu diperlukan usaha yang lebih keras untuk mempertahankan adat istiadat Kampung Naga ini. Akses masuk yang cukup mudah ke Kampung Naga, berada di tepi jalan besar, menjadi pisau bermata dua. Disatu sisi menjadikan Kampung Naga mudah dikunjungi, hal yang bagus untuk sebuah daerah wisata, namun hal ini juga menjadi ancaman tersendiri terhadap kelangsungan hidup adat istiadat Kampung Naga. Catatan ini perlu diperhatikan oleh para pihak yang berkepentingan dengan kelestarian kehidupan Kampung Naga. Sebagai warga negara yang merasa ikut memiliki warisan budaya yang luhur ini, kami tentu saja berharap kearifan lokal yang dipunyai oleh penduduk Kampung Naga ini dapat memberi pelajaran paling tidak bagaimana hidup harmoni dengan alam sekitar dan menjaganya.

Sabtu, 10 Desember 2011

Flores..., Labuan Bajo - P. Rinca (bag. 3)


Sudah menjelang petang pada saat kami meninggalkan Bena, persinggahan berikutnya adalah Bajawa yang berjarak 13 km, kota berudara sejuk ini, berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh gunung-gunung api. Bajawa merupakan pusat dari kawasan Ngada yang dihuni oleh suku Ngada, salah satu suku paling tradisional di Flores.

Menginap di salah satu hotel di Bajawa, kami menemui cukup banyak wisatawan asing yang menginap juga. Kota ini terlihat cukup siap menjadi kota tujuan wisatawan, cukup banyak hotel dan restoran yang siap menerima kunjungan wisatawan.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, melewati Ruteng. Sebetulnya ada satu tempat yang terkenal tetapi kami belum sempat mengunjunginya yaitu Riung yang berjarak 2,5 jam dari Bajawa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ke sana.

Perjalanan menuju Ruteng seperti biasanya melewati perbukitan dengan medan jalan yang meliuk-liuk mengikuti tekstur perbukitan. Mata kembali dimanjakan dengan panorama alam yang luar biasa.

 Tekstur perbukitan dengan G. Inerie di latar belakang

 Serombongan bus kayu

Perjalanan menuju Ruteng dari Bajawa dapat ditempuh selama kira-kira 5 jam. Kami sempat mampir ke tempat pembuatan arak tradisional yang banyak dijumpai di sepanjang jalan. Pembuatan arak dengan bahan baku air nira dilakukan dengan sederhana. Nira ditampung di sebuah tempayan gerabah kemudian dipanaskan, uap yang keluar dari tempayan tersebut dialirkan melalui sebatang bambu yang panjang sehingga tercipta kondensat yang ditampung dengan jeriken di ujung bambu. Kadar arak yang didapat sangat tinggi, sehingga kalau disulut korek api bisa menyala, setelah sempat mencicipi kami beli untuk dibawa pulang.

Pembuatan arak Flores

Ruteng merupakan daerah yang dapat ditempuh sekitar 5 jam melalui perjalanan darat dari Bajawa. Kota yang didominasi oleh suku Manggarai ini berada di pusat kawasan Manggarai, pada kaki gunung dengan hamparan persawahan di sekelilingnya. 

Pengembalaan sapi

Dari Ruteng menuju Labuan Bajo dapat ditempuh sekitar 4 jam. Labuan Bajo, kota kecil yang dulunya merupakan pemukiman nelayan ini sekarang berkembang menjadi tempat wisata karena berfungsi sebagai pintu gerbang utama menuju Pulau Komodo. Berbagai fasilitas akomodasi dan restoran tersedia cukup lengkap di kota ini.

Di samping itu, Labuan Bajo juga dapat dicapai dengan menggunakan alat transportasi penerbangan dari Denpasar. Setelah mengunjungi pulau Komodo, sebagian wisatawan, terutama wisatawan dari Eropa, melanjutkan kegiatan dengan menjelajahi pedalaman Flores.

Tiba di Labuan Bajo hari sudah mulai gelap, dengan bantuan teman dari Bali yaitu Ketut Suastika yang mengoperasikan perusahaan tour dan travel di Pelabuhan Sape di Sumbawa, Labuan Bajo dan Raja Ampat, kami bergegas mencari hotel. Dengan bantuan beliau juga kami mendapatkan kapal untuk menyeberang besoknya ke Pulau Rinca. Karena kapal-kapal yang dioperasikan oleh Kt. Suartika sudah tersewa semuanya, akhirnya kami dapatkan juga kapal kecil dengan ongkos sewa Rp. 500.000 menuju P. Rinca pulang pergi. 

Menikmati malam hari di Labuan Bajo serasa berada di Kuta di tahun 90an. Sudah banyak hotel, homestay ataupun restoran yang kebanyakan diisi oleh turis asing. Dengan pengelolaan yang benar daerah ini sangat berpotensi maju dan menjadi tujuan wisata utama di NTT, salah satunya adalah karena menjadi pintu utama menuju Taman Nasional Komodo.
 

 Di Labuan Bajo


 Kapal LOB (Live Aboard) di Labuan Bajo


Perjalanan dari Labuan Bajo ke P.Rinca adalah sekitar 2 jam dengan melalui pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitar perairan Flores Barat. Cukup banyak kapal LOB (Live Aboard) di perairan ini, umumnya digunakan oleh para wisatawan untuk bermalam dan menyelam di perairan ini. Pemandangan yang menakjubkan tersaji sepanjang perjalanan dengan kapal kecil menuju P. Rinca. Dengan perairan yang cukup tenang dan gugusan pulau-pulau kecil menghijau menjadikan perjalanan 2 jam tidak terasa.



Siap-siap menuju P. Rinca

Gugusan pulau di jalur menuju P. Rinca

Rumah penduduk di pantai

Perbukitan di tepi pantai

Dermaga P. Rinca

Di Pulau Rinca ini kami mengunjungi Taman Nasional Komodo di Loh Buaya. Perairan di sekitar Loh Buaya ini sangat jernih. Perjalanan dari dermaga Loh Buaya ke Pos Ranger melewati pemandangan yang cantik, pohon2 kering berwarna putih, pasir coklat muda, dan bukit2 hijau.

 Pintu masuk Loh Buaya


Komodo di pintu masuk p. Rinca

Menuju Pos Ranger



Di Pos Ranger setelah membayar retribusi untuk pengunjung, kami diantar seorang ranger untuk trekking mengelilingi pulau. Pilihan trekking ada yg short-medium dengan waktu kira-kira 2 jam dan long trek yang lebih panjang. Komodo termasuk binatang buas dengan kemampuan melumpuhkan buruannya yang unik. Cukup dengan sedikit gigitan maka hewan besar seperti banteng liar pun akan mati perlahan-lahan. Keistimewaan yang lainnya adalah kemampuan mencium aroma darah dari jarak sekitar 5 km. Oleh karena itu sangat disarankan jika melakukan trekking pastikan tidak ada luka terbuka di bagian badan atau tidak sedang datang bulan bagi yang wanita. Karena area trekking adalah semak belukar disarankan juga untuk tidak terkena duri atau ranting tajam yang bisa menyebabkan luka dan mengeluarkan darah, karena akan tercium oleh komodo. 

Di P. Rinca komodo hidup liar, demikian juga dengan hewan lainnya seperti banteng dan kera, jadi dibiarkan seperti habitat aslinya. Hidup komodo tergantung dari hewan buruan yang ada di sana seperti banteng dan kera. Bahkan komodo akan memakan anak-anak komodo yang baru menetas, jika anak komodo tersebut tidak cepat-cepat naik ke atas pohon setelah lahir. Anak-anak komodo bisa hidup di atas pohon sampai berbulan-bulan. 



Komodo di dekat pos ranger


Di salah satu sudut pos ranger


Jalur trekking

Komodo bisa datang darimana saja

Sepenggal kisah, kepopuleran Pulau Komodo berawal pada tahun 1910 ketika Pasukan Belanda menerima laporan adanya monster naga yang mendiami sebuah pulau yang kemudian diterbitkan dalam sebuah paper Hindia Belanda oleh Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor. Kabar ini pula yang mendorong W. Douglas Burden melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo tahun 1926 dan kemudian menjadi orang pertama yang memberi nama Komodo Dragon.

Taman Nasional Komodo ini diresmikan pada 1980 dengan luas 1817km2 yang 6 tahun kemudian ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia dan cagar biosfir oleh UNESCO tempat konservasi untuk melestarikan komodo. Sebetulnya bukan hanya habitat naga purba yang legendaris ini saja yang dilestarikan karena TNK juga rumah bagi begitu banyak keanekaragaman hayati didarat maupun laut.

TNK terdiri dari 3 pulau besar yang indah, Pulau Komodo, Rinca dan Padar, selain tempat habitat komodo taman ini juga sebagai rumah bagi setidaknya 1000 spesies ikan, ratusan spesies karang, koral dan 70 jenis tanaman sponge, 19 spesies paus dan lumba-lumba, juga banyak terdapat plankton yang merupakan makanan utama Pari Manta (Manta Birostris), binatang eksotis yang bisa dijadikan ikon bahari kawasan TNK.

Ada begitu banyak pertunjukan alam di TNK tapi pertunjukan utama tentu menyaksikan dari dekat satu-satunya habitat asli dari salah satu hewan purba yang masih berkembang biak sampai saat ini, bisa berdekat-dekat dengan hewan ini sambil membayangkan hidup jutaan tahun lalu.

Komodo mempunyai musim kawin sekitar bulan Juli-Agustus, sehingga jika ke sana di bulan berikutnya ada kemungkinan kita bisa menyaksikan komodo bertelur walaupun jarang, paling tidak bisa melihat sarangnya. Kami ke sana pada Bulan Oktober awal, beruntung bisa menyaksikan komodo yang sedang bekerja membuat sarang, sebuah pemandangan yang cukup langka. Sambil mengendap-endap supaya tidak mengganggu komodo kami berhasil mengambil gambarnya, walau tidak sempurna.


 Selalu waspada


Menggali sarang

Menggali terus

Tidak terusik

Awasi sekitar

Di depan tulang belulang kera


Setelah melakukan trekking selama hampir 2 jam kami kembali ke pos ranger untuk beristirahat. Ada kantin yang cukup membantu pengunjung yang menjual aneka minuman maupun makanan kecil. 

Lewat tengah hari kami siap-siap meninggalkan P. Rinca kemabli ke Labuan Bajo. Makan siang dilakukan di atas kapal yang melaju tenang, dengan panorama indah sepanjang perjalanan.


Kembali ke Labuan Bajo

Pemandangan pulang

Labuan Bajo


Sampai Labuan Bajo hari menjelang sore, masih sempat menikmati makan malam di tepi pantai. Cukup banyak penjual makanan, terutama hasil laut yang berjualan di pinggir pantai.

Besoknya kami kembali ke Gresik lewat Bandara Komodo di Labuan Bajo, transit di Denpasar.



 Di Bandara Komodo

Pesawat jet bermesin 4
 
Pengalaman yang sangat berkesan, mengunjungi Flores salah satu tempat yang istimewa di Nusantara, membuat kebanggaan akan negeri sendiri semakin tebal, mudah-mudahan bisa kembali lagi ke tempat ini dimasa mendatang, Astungkara...