Sabtu, 10 Desember 2011

Flores..., Labuan Bajo - P. Rinca (bag. 3)


Sudah menjelang petang pada saat kami meninggalkan Bena, persinggahan berikutnya adalah Bajawa yang berjarak 13 km, kota berudara sejuk ini, berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh gunung-gunung api. Bajawa merupakan pusat dari kawasan Ngada yang dihuni oleh suku Ngada, salah satu suku paling tradisional di Flores.

Menginap di salah satu hotel di Bajawa, kami menemui cukup banyak wisatawan asing yang menginap juga. Kota ini terlihat cukup siap menjadi kota tujuan wisatawan, cukup banyak hotel dan restoran yang siap menerima kunjungan wisatawan.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, melewati Ruteng. Sebetulnya ada satu tempat yang terkenal tetapi kami belum sempat mengunjunginya yaitu Riung yang berjarak 2,5 jam dari Bajawa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ke sana.

Perjalanan menuju Ruteng seperti biasanya melewati perbukitan dengan medan jalan yang meliuk-liuk mengikuti tekstur perbukitan. Mata kembali dimanjakan dengan panorama alam yang luar biasa.

 Tekstur perbukitan dengan G. Inerie di latar belakang

 Serombongan bus kayu

Perjalanan menuju Ruteng dari Bajawa dapat ditempuh selama kira-kira 5 jam. Kami sempat mampir ke tempat pembuatan arak tradisional yang banyak dijumpai di sepanjang jalan. Pembuatan arak dengan bahan baku air nira dilakukan dengan sederhana. Nira ditampung di sebuah tempayan gerabah kemudian dipanaskan, uap yang keluar dari tempayan tersebut dialirkan melalui sebatang bambu yang panjang sehingga tercipta kondensat yang ditampung dengan jeriken di ujung bambu. Kadar arak yang didapat sangat tinggi, sehingga kalau disulut korek api bisa menyala, setelah sempat mencicipi kami beli untuk dibawa pulang.

Pembuatan arak Flores

Ruteng merupakan daerah yang dapat ditempuh sekitar 5 jam melalui perjalanan darat dari Bajawa. Kota yang didominasi oleh suku Manggarai ini berada di pusat kawasan Manggarai, pada kaki gunung dengan hamparan persawahan di sekelilingnya. 

Pengembalaan sapi

Dari Ruteng menuju Labuan Bajo dapat ditempuh sekitar 4 jam. Labuan Bajo, kota kecil yang dulunya merupakan pemukiman nelayan ini sekarang berkembang menjadi tempat wisata karena berfungsi sebagai pintu gerbang utama menuju Pulau Komodo. Berbagai fasilitas akomodasi dan restoran tersedia cukup lengkap di kota ini.

Di samping itu, Labuan Bajo juga dapat dicapai dengan menggunakan alat transportasi penerbangan dari Denpasar. Setelah mengunjungi pulau Komodo, sebagian wisatawan, terutama wisatawan dari Eropa, melanjutkan kegiatan dengan menjelajahi pedalaman Flores.

Tiba di Labuan Bajo hari sudah mulai gelap, dengan bantuan teman dari Bali yaitu Ketut Suastika yang mengoperasikan perusahaan tour dan travel di Pelabuhan Sape di Sumbawa, Labuan Bajo dan Raja Ampat, kami bergegas mencari hotel. Dengan bantuan beliau juga kami mendapatkan kapal untuk menyeberang besoknya ke Pulau Rinca. Karena kapal-kapal yang dioperasikan oleh Kt. Suartika sudah tersewa semuanya, akhirnya kami dapatkan juga kapal kecil dengan ongkos sewa Rp. 500.000 menuju P. Rinca pulang pergi. 

Menikmati malam hari di Labuan Bajo serasa berada di Kuta di tahun 90an. Sudah banyak hotel, homestay ataupun restoran yang kebanyakan diisi oleh turis asing. Dengan pengelolaan yang benar daerah ini sangat berpotensi maju dan menjadi tujuan wisata utama di NTT, salah satunya adalah karena menjadi pintu utama menuju Taman Nasional Komodo.
 

 Di Labuan Bajo


 Kapal LOB (Live Aboard) di Labuan Bajo


Perjalanan dari Labuan Bajo ke P.Rinca adalah sekitar 2 jam dengan melalui pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitar perairan Flores Barat. Cukup banyak kapal LOB (Live Aboard) di perairan ini, umumnya digunakan oleh para wisatawan untuk bermalam dan menyelam di perairan ini. Pemandangan yang menakjubkan tersaji sepanjang perjalanan dengan kapal kecil menuju P. Rinca. Dengan perairan yang cukup tenang dan gugusan pulau-pulau kecil menghijau menjadikan perjalanan 2 jam tidak terasa.



Siap-siap menuju P. Rinca

Gugusan pulau di jalur menuju P. Rinca

Rumah penduduk di pantai

Perbukitan di tepi pantai

Dermaga P. Rinca

Di Pulau Rinca ini kami mengunjungi Taman Nasional Komodo di Loh Buaya. Perairan di sekitar Loh Buaya ini sangat jernih. Perjalanan dari dermaga Loh Buaya ke Pos Ranger melewati pemandangan yang cantik, pohon2 kering berwarna putih, pasir coklat muda, dan bukit2 hijau.

 Pintu masuk Loh Buaya


Komodo di pintu masuk p. Rinca

Menuju Pos Ranger



Di Pos Ranger setelah membayar retribusi untuk pengunjung, kami diantar seorang ranger untuk trekking mengelilingi pulau. Pilihan trekking ada yg short-medium dengan waktu kira-kira 2 jam dan long trek yang lebih panjang. Komodo termasuk binatang buas dengan kemampuan melumpuhkan buruannya yang unik. Cukup dengan sedikit gigitan maka hewan besar seperti banteng liar pun akan mati perlahan-lahan. Keistimewaan yang lainnya adalah kemampuan mencium aroma darah dari jarak sekitar 5 km. Oleh karena itu sangat disarankan jika melakukan trekking pastikan tidak ada luka terbuka di bagian badan atau tidak sedang datang bulan bagi yang wanita. Karena area trekking adalah semak belukar disarankan juga untuk tidak terkena duri atau ranting tajam yang bisa menyebabkan luka dan mengeluarkan darah, karena akan tercium oleh komodo. 

Di P. Rinca komodo hidup liar, demikian juga dengan hewan lainnya seperti banteng dan kera, jadi dibiarkan seperti habitat aslinya. Hidup komodo tergantung dari hewan buruan yang ada di sana seperti banteng dan kera. Bahkan komodo akan memakan anak-anak komodo yang baru menetas, jika anak komodo tersebut tidak cepat-cepat naik ke atas pohon setelah lahir. Anak-anak komodo bisa hidup di atas pohon sampai berbulan-bulan. 



Komodo di dekat pos ranger


Di salah satu sudut pos ranger


Jalur trekking

Komodo bisa datang darimana saja

Sepenggal kisah, kepopuleran Pulau Komodo berawal pada tahun 1910 ketika Pasukan Belanda menerima laporan adanya monster naga yang mendiami sebuah pulau yang kemudian diterbitkan dalam sebuah paper Hindia Belanda oleh Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor. Kabar ini pula yang mendorong W. Douglas Burden melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo tahun 1926 dan kemudian menjadi orang pertama yang memberi nama Komodo Dragon.

Taman Nasional Komodo ini diresmikan pada 1980 dengan luas 1817km2 yang 6 tahun kemudian ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia dan cagar biosfir oleh UNESCO tempat konservasi untuk melestarikan komodo. Sebetulnya bukan hanya habitat naga purba yang legendaris ini saja yang dilestarikan karena TNK juga rumah bagi begitu banyak keanekaragaman hayati didarat maupun laut.

TNK terdiri dari 3 pulau besar yang indah, Pulau Komodo, Rinca dan Padar, selain tempat habitat komodo taman ini juga sebagai rumah bagi setidaknya 1000 spesies ikan, ratusan spesies karang, koral dan 70 jenis tanaman sponge, 19 spesies paus dan lumba-lumba, juga banyak terdapat plankton yang merupakan makanan utama Pari Manta (Manta Birostris), binatang eksotis yang bisa dijadikan ikon bahari kawasan TNK.

Ada begitu banyak pertunjukan alam di TNK tapi pertunjukan utama tentu menyaksikan dari dekat satu-satunya habitat asli dari salah satu hewan purba yang masih berkembang biak sampai saat ini, bisa berdekat-dekat dengan hewan ini sambil membayangkan hidup jutaan tahun lalu.

Komodo mempunyai musim kawin sekitar bulan Juli-Agustus, sehingga jika ke sana di bulan berikutnya ada kemungkinan kita bisa menyaksikan komodo bertelur walaupun jarang, paling tidak bisa melihat sarangnya. Kami ke sana pada Bulan Oktober awal, beruntung bisa menyaksikan komodo yang sedang bekerja membuat sarang, sebuah pemandangan yang cukup langka. Sambil mengendap-endap supaya tidak mengganggu komodo kami berhasil mengambil gambarnya, walau tidak sempurna.


 Selalu waspada


Menggali sarang

Menggali terus

Tidak terusik

Awasi sekitar

Di depan tulang belulang kera


Setelah melakukan trekking selama hampir 2 jam kami kembali ke pos ranger untuk beristirahat. Ada kantin yang cukup membantu pengunjung yang menjual aneka minuman maupun makanan kecil. 

Lewat tengah hari kami siap-siap meninggalkan P. Rinca kemabli ke Labuan Bajo. Makan siang dilakukan di atas kapal yang melaju tenang, dengan panorama indah sepanjang perjalanan.


Kembali ke Labuan Bajo

Pemandangan pulang

Labuan Bajo


Sampai Labuan Bajo hari menjelang sore, masih sempat menikmati makan malam di tepi pantai. Cukup banyak penjual makanan, terutama hasil laut yang berjualan di pinggir pantai.

Besoknya kami kembali ke Gresik lewat Bandara Komodo di Labuan Bajo, transit di Denpasar.



 Di Bandara Komodo

Pesawat jet bermesin 4
 
Pengalaman yang sangat berkesan, mengunjungi Flores salah satu tempat yang istimewa di Nusantara, membuat kebanggaan akan negeri sendiri semakin tebal, mudah-mudahan bisa kembali lagi ke tempat ini dimasa mendatang, Astungkara...

Rabu, 07 Desember 2011

Flores..., Ende - Bena Village (bag.2)

 
Hari sudah beranjak siang ketika kami kembali ke Moni dari Danau Kelimutu. Setelah sarapan dan minum kopi Flores yang nikmat, perjalanan berlanjut menuju Ende. Rencana perjalanan hari ini sampai di Bajawa setelah mampir di Ende dan Bena Traditional Village. 


Dari Kelimutu ke Ende adalah pengalaman yang tak terlupakan. Jalan meliuk-liuk mengikuti cara ular berjalan. Kebun-kebun rakyat melambaikan daun-daunnya menyapa kami. Tikungan, tanjakan, turunan menemani perjalanan sepanjang kira-kira 60 km. Mendekati Kota Ende, air terjun sedang dan kecil bermain di dinding bukit batu. 




Berangkat ke gereja

Jalanan mengitari perbukitan

Bus kayu khas Flores

Pemandangan sepanjang jalan

 Narsis sejenak

Jalan menuju Ende melalui deretan pegunungan terjal, tidak beraturan, dan kelihatan sulit untuk dilalui. Sekalipun demikian kenyataannya gunung-gunung ini menyimpan banyak hal mengagumkan, baik itu kawah-kawah gunung apinya maupun desa-desa tradisional dengan  beragam budaya dan bahasanya.


Pulau Flores sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan perdagangan kayu cendana dari Pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat Kerajaan Gowa, Kerajaan Ternate, Bangsa Portugis dan Belanda berebut untuk menguasai pulau yang panjangnya 375 km ini.

Para pendatang ini, berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena terhalang oleh deretan pegunungan terjal tidak beraturan. Kini bagian dalam Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun yang membelah gunung dan berkelok-kelok.



Menyusuri jalan aspal dari Kota Ende ke arah Bajawa pada sore hari merupakan pengalaman yang sensasional. Kumpulan batu-batu berwarna hijau muda di tepi jalan, ombak laut yang malas-malasan menggerayang pantai merupakan pemandangan di sisi kiri. Sedangkan disisi kanan kita bisa menyaksikan pohon kelapa yang menjulang dan pohon kemiri dengan daunnya yang berwarna putih. Buah kemiri menjadi produk andalan dari Pulau Flores.

Hari sudah siang pada saat kami tiba di Kota Ende, kota yang pernah menjadi tempat pengasingan Ir. Soekarno. Tidak disangka di kota ini kami bertemu dengan teman dari Gresik yang hijrah ke Ende. Sangat mudah menemukan tempat tinggalnya karena dia punya warung makan khas Jawa Timur dengan nama Warung Lamongan. Sambil bercengkrama kami makan siang di warungnya.  

Kami menyempatkan untuk mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Ende dan melihat pohon Pancasila di pusat kota Ende. Disebut pohon Pancasila karena batang pohon sejenis nangka (?), bercabang 5 dan tempat sekitar pohon tersebut konon dulunya sering dikunjungi dan dipakai tempat Bung Karno menghabiskan waktu ketika diasingkan ke Ende. Tidak jauh dari situ terdapat patung Bung Karno.


Rumah pengasingan Bung Karno


Pohon Pancasila


Teman lama dan warungnya di Ende


Dari Ende kami meneruskan perjalanan menuju Kampung Tradisional Bena, sebuah perkampungan tradisional yang terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Aimere, Ngada. Desa ini terletak di bawah kaki Gunung Inerie sekitar 13 km arah selatan Kota Bajawa. Perkampungan adat ini terkenal karena keberadaan sejumlah bangunan megalitik yang dimiliki dan tata kehidupan masyarakatnya yang masih mempertahankan keaslian perkampungan tersebut.

Kampung adat Bena terletak tepat di lereng Bukit Inerie yang agak menonjol. Warga setempat menyebut tempat ini seperti berada di atas kapal karena bentuknya memanjang seperti perahu. Konon menurut cerita yang dipercaya secara turun temurun, pada zaman dahulu sebuah kapal besar pernah terdampar di atas lereng gunung itu. Kapal itu tidak bisa berlayar lagi dan terus terdampar sampai akhirnya air surut dan menjauh dari tempat itu.


Bangkai kapal kemudian membatu dan di atasnya kemudian digunakan masyarakat setempat sebagai lokasi perkampungan. Perkampungan Bena mempunyai daya tarik sendiri bagi para wisatawan karena bangunan megalitik berupa susunan batu-batuan kuno. Tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang mendirikan bangunan megalitik tersebut, namun masyarakat setempat percaya kalau bebatuan tersebut disusun seorang diri oleh seorang lelaki perkasa bernama Dhake.

Menurut warga setempat, suatu waktu datanglah sekelompok orang dan membangun sebuah perkampungan di tempat tersebut yang kemudian diberi nama Bena. Uniknya, di antara mereka ada seorang lelaki bernama Dhake yang bertekad ingin menciptakan sebuah kampung yang agung dan indah. Maka timbulah gagasan dalam benaknya untuk merancang perkampungan itu dengan menyertakan batu-batu besar sebagai hiasannya.

Terdorong oleh gagasannya itu, ia kemudian pergi ke Pantai Aimere yang berjarak sekitar seratus kilometer dari perkampungan Bena. Dari sana ia mengambil batu-batu besar berbentuk lempengan panjang atau pun meruncing, lalu dipikulnya hingga ke Bena. Batu- batu itu kemudian disusun sedemikian rupa, ada yang berdiri dan ada pula yang dibiarkan mendatar. Sususan batu-batu itulah yang saat ini dikenal dengan megalit.

Para pengunjung akan melihat dengan jelas apa yang dimaksud dengan megalit itu. Bentuknya sederhana berupa susunan batu-batu yang teratur dan berada tepat di tengah perkampungan. Pada batu megalit ini terlihat jelas bekas telapak kaki yang diyakini masyarakat setempat adalah telapak kaki milik Dhake. Menurut cerita, pada saat membangun kampung Bena ini, batu-batu yang dipikul Dhake dari Aimere, masih lembek dan tidak sekeras yang sekarang ada sehingga bekas tapak kaki Dhake nampak jelas di atas batu. Para pengunjung yang datang ke tempat ini akan menemukan jejeran rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional dan terletak saling berhadapan.


Susunan batuan kuno


Megalitik, susunan batu-batu kuno


Rumah-rumah adat yang sering disebut peo ini, terbuat dari papan berbentuk panggung, beratap alang-alang dipadukan dengan dinding bambu pada teras depan yang berukuran sekitar 10 kali 10 meter. Di bagian tengah kampung terdapat monumen adat yang dibangun seperti lopo (madhu) dan sebuah rumah kecil yang disebut bhaga. Kedua bangunan ini oleh masyarakat setempat dianggap sebagai simbol pemersatu dari suku yang menempati perkampungan itu. Terdapat kurang lebih 37 rumah adat yang dibangun mengelilingi halaman persegi yang cukup lebar yang disebut dengan Kisanatha yang dipakai lapangan umum untuk kegiatan sosial dan seremonial. Terlihat pula makam-makam yang ada di sekitar bangunan rumah mereka. Jika ada warga kampung yang meninggal, akan dimakamkan di sekitar rumah mereka.

Masyarakat setempat benar-benar bertekad untuk mempertahankan keaslian perkampungan tersebut. Semua rumah dibangun menyerupai rumah adat dan tidak diizinkan membangun rumah dengan campuran yang bergaya modern. Listrik pun tidak diizinkan sehingga untuk penerangan hanya digunakan lampu pelita. Hal ini sengaja dikondisikan untuk mempertahankan citra perkampungan adat tersebut sesuai sejarah pembangunannya.

Masyarakat kampung Bena umumnya ramah terhadap pengunjung, dimana setiap pengunjung yang datang pasti disambut dengan senyuman, sebagai sapaan. Kita bisa bertanya-tanya tentang budaya yang mereka miliki dan dengan sangat baik akan dijelaskan kepada kita perihal budaya setempat.

Perjalanan menuju kampung adat Bena ini memerlukan kondisi kendaraan yang prima, karena jalannya menanjak dan menurun dengan sudut yang ekstrem. Pemandangan yang eksotis dengan latar belakang Gunung Inerie yang khas, berbentuk segitiga, hampir seperti gambar-gambar gunung yang digambar anak SD, merupakan obat penebus rasa lelah. Sudah cukup sore ketika kami sampai di Bena, disambut oleh penduduk setempat dengan keramahan yang khas. Ketika kami mengisi buku tamu terlihat jelas bahwa yang mengunjungi Kampung Bena ini didominasi oleh tamu mancanegara. Sangat sedikit tamu lokal, cukup prihatin juga, mudah-mudahan nantinya lebih banyak lagi tamu lokal yang ke sini.


Jalan masuk Bena


Mengisi waktu luang di Bena


Struktur rumah adat di Bena


Rumah adat dengan tenun ikat


Makam di Kampung Bena


Gunung Inerie di latar belakang


Dari ujung kampung


Serasi dengan alam


Penduduk yang ramah

Berkeliling di pemukiman ini seperti memasuki peradaban masa silam, sederhana tapi penuh makna. Begitu banyak kearifan yang dipunyai mereka, sehingga mereka bisa hidup dengan nyaman di tengah alam sekitarnya. 
    



Minggu, 04 Desember 2011

Flores..Si Pulau Ular.., Kelimutu (bag.1)


Pulau Flores terletak di sebelah timur Pulau Sumbawa, 10 derajat lintang selatan dan 119 - 124 derajat bujur timur. Merupakan pulau yang unik dengan rangkaian pegunungan disepanjang garis tengahnya. Dari membaca beberapa referensi tentang Flores, terlihat sangat menarik, unik dan sangat layak untuk dikunjungi. Tetap saja ada banyak pertanyaan sewaktu kita memutuskan untuk kesana, diantaranya, ada apa disana, mau lihat apa, ngapain disana, pertanyaan-pertanyaan mendasar sekali. Referensi dari Emil dan Liliana Schmid sangat menguatkan motivasi kami, disamping rasa malu terhadap mereka yang sudah mengelilingi seluruh Indonesia. 


Tanggal 2 Oktober 2010, kami berangkat dari Gresik, transit di Denpasar untuk ganti pesawat dengan Nusantara Air Charter menuju Maumere. Perjalanan Denpasar Maumere ditempuh sekitar 1 - 1,5 jam dengan transit di Ende untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Pesawat dari Denpasar ke Maumere terbang tidak terlalu tinggi sehingga sepanjang jalan dapat terlihat dengan jelas pemandangan laut dan pulau-pulau sepanjang Bali, Lombok, Sumbawa yang sangat indah.


Gugusan karang dekat Ende




Pantai Ende




Menuju Maumere


Sekitar jam 13.30 Wita kami tiba di Bandara Frans Seda Maumere, sebuah bandara yang dulunya bernama Bandara Waioti. Karena hari masih siang kami langsung putuskan untuk menuju Moni, persinggahan yang populer sebelum ke Danau Kelimutu. Di bandara terdapat cukup banyak mobil yang bisa disewa menuju ke tempat-tempat yang populer dikunjungi, bahkan sampai ke Labuan Bajo. Pemilihan mobil yang tepat menjadi penting karena medan jalan di Flores sangat menantang, dengan tekstur perbukitan sepanjang pulau menjadikan jalannya berliku-liku naik turun tajam. Jalan seperti itu ternyata ada di sepanjang pulau, jadi memilih mobil yang tepat dan nyaman buat penumpang sangat disarankan. Hal ini terbukti ketika kami dalam perjalanan, sangat sering melihat mobil berhenti di tengah jalan, semua penumpangnya turun dan muntah karena mabuk. Setelah ditanyakan ke driver kami, infonya memang biasa seperti itu. Perjalanan menuju Moni dari Maumere bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam dengan medan yang berkelak-kelok di kiri kanan hutan terkadang pantai. Maumere terletak di Kabupaten Sikka sedangkan Moni dan Kelimutu di Kabupaten Ende. Kami sempat berhenti di rumah Frans Seda salah satu tokoh nasional yang berasal dari Kab. Sikka.




Di depan rumah Frans Seda




Hari sudah mulai memasuki petang ketika kami tiba di Moni, sebuah daerah yang sangat populer bagi pengunjung yang akan menuju Danau Kelimutu. Kampung Moni terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Terdapat banyak penginapan dengan tarif bersahabat. Penginapan yang cukup dikenal adalah Sao Ria Wisata, sayang pada saat kami sampai disana penginapan tersebut sudah penuh, situasi yang sering terjadi jika malam minggu atau malam libur. Tetapi masih banyak penginapan lainnya dengan suasana yang hampir mirip. Moni daerah yang cukup dingin udaranya, apalagi pada malam hari, terlihat sudah cukup siap menerima kunjungan wisatawan yang kebanyakan adalah wisatawan asing.



Pagi-pagi sekitar jam 04.00, kami naik menuju Danau Kelimutu dengan mobil. Jarak ke Danau Kelimutu sekitar 13 km dengan jalanan berliku dapat ditempuh sekitar 30 menit. Setelah membayar retribusi, perjalanan dilanjutkan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dari parkiran, kami berjalan menuju jalan setapak terbuat dari paving block, kanan kiri perdu lebat. Jangan lupa bawa jacket, karena suhunya dingin sekali. Berjalan menuju look out point selama 20-30 menit. Look out point tempat melihat sunrise, dan bisa memandang ke-3 danau dengan leluasa. 15 menit terakhir menuju look out point, jalan sudah di semen, dengan anak-anak tangga, yang lumayan banyak, cukup untuk menghangatkan badan. Danau Kelimutu berada di ketinggian 1640 mdpl dengan suhu antara 10-15 derajat.




View menuju Danau Kelimutu

Jalan setapak ke Danau Kelimutu




Tepi Danau Kelimutu warna hijau dan coklat




Danau Kelimutu warna hijau dan coklat




View puncak dari pinggir danau

Di pinggir danau hijau dan coklat




Menuju gardu pandang




Tertatih-tatih menuju puncak

Tangga naik ke gardu pandang

Karena Hari Minggu pagi itu cukup banyak pengunjung yang ke Danau Kelimutu. Sebagian besar memang bule, yang rata-rata dari penuturannya adalah wisatawan yang berangkat dari Denpasar, Bali. Udara pagi yang segar dengan panorama yang demikian indah akan membuat siapapun betah disana. Jalan setapak menuju puncak dikelilingi oleh pepohonan pinus dan pohon-pohon lainnya.


Gunung Kelimutu meletus terakhir kali tahun 1886, dan terbentuklah tiga kawah yang berwarna berbeda.  Menurut kepercayaan orang Lio, roh orang mati akan pergi ke danau-danau tersebut. Roh orang tua yang baik akan menuju ke Tiwu ata mbupu (danau arwah orang tua) yang airnya berwarna merah. Roh orang tua yang saat hidupnya berbuat banyak kejahatan akan menuju ke Tiwu Ata Polo (arwah tukang tenung) yang airnya berwarna hitam. Sedangkan roh anak-anak dan orang muda akan menuju ke Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (danau arwah muda-mudi) yang airnya berwarna biru atau hijau muda.Sekarang ini dua kawah yang berdampingan berwarna hijau (dulu biru) dan coklat kehitaman (dulu merah), sedangkan kawah yang satunya juga berwarna hitam (sebelumnya berwarna putih). Danau yang cantik dan ajaib ini ditemukan oleh Van Suchtelen, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Kemudian Romo Bouman menulis artikel tentang danau ini sehingga dikenal luas.

Keindahan lain dari Danau Kelimutu adalah pada perubahan warna airnya. Tidak ada yang tahu faktor apa yang menyebabkan perubahan warna tersebut. Tepatnya mineral apa yang mengubah warna-warna ketiga danau tersebut. Konon danau yang sekarang berwarna hijau muda, dulunya berwarna biru. Sedangkan danau yang sekarang berwarna kemerahan, dulunya berwarna coklat. Ada cerita, seandainya orang melempar batu ke dalam danau, maka batu tersebut akan mental. Tapi terus terang saja, kami tidak berani untuk mencobanya.


Pada pertengahan 2006 lalu terjadi beberapa kali perubahan terutama untuk dua danau yang letaknya bersebelahan yakni Danau Arwah Muda-mudi (tiwu nua muri ko'o fai) dan Danau Arwah Tukang Tenung (tiwu ata polo). Danau Arwah Muda-mudi yang sebelumnya berwarna hijau, pada Juni tahun lalu sempat berubah menjadi biru. Sementara Danau Tukang Tenung atau Orang Jahat yang sebelumnya berwarna cokelat tua berubah warna agak kemerah-merahan.


Danau Tiwu Ata Polo (warna hitam)




Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (arwah muda-mudi)




Tiwu Ata Polo (arwah tukang tenung)




Gardu pandang




Wajah khas di gardu pandang


Kawah gunung dikelilingi oleh hutan pinus dan kicauan burung, sungguh sebuah lukisan alam yang mengagungkan pencipta-Nya. Tugu pengamatan (1.690 m) yang dibangun di puncak gunung menjadi tempat yang tepat dan nyaman untuk menikmati keagungan tempat itu. Tidak heran jika Presiden I kita Ir. Soekarno dengan kedalaman dan luasnya wawasan beliau, merumuskan sila-sila Pancasila di tempat ini.

Hari sudah semakin siang, dengan berat hati kami meninggalkan salah satu tempat istimewa di Nusantara ini, menuju ke arah barat ke arah Ende dan Bajawa.